Minggu, 13 November 2016

Makalah Tentang Sampah


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Pembinaan dan pengembangan generasi muda dilakukan antara lain melalui upaya untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap TUHAN YANG MAHA ESA, mempertinggi budi pekerti, menumpuk kesadaran jasmani dan daya kreasi, pengembangan kemandirian, kepemimpinan, ilmu pengetahuan, keterampilan, semangat kerja keras dan kepeloporan, serta mendorong partisipasi dalam berbangsa dan bernegara. Keingintahuan yang besar membuat kita terus menjadi insan yang berguna bagi nusa dan bangsa.

1.2.  Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui apa yang ingin kita ketahui, seperti yang telah diketahui orang yang pernah mengetahuinya. Agar kita dapat memperoleh pengetahuan tentang tanggung jawab pengelolaan sampah. Dengan adanya penulisan makalah Tanggung Jawab Pengelolaan Sampah. Dengan adanya penulisan makalah ini, kita dapat mengolah hasil pikiran. Selain itu untuk memberikan motivasi dan inspirasi kepada pembaca dalam hal keingin tahuan, secara mendalam tentang Tanggung Jawab Pengelolaan Sampah.

1.3.  Rumusan Masalah
1.      Pengertian dan Tujuan Pengelolaan Sampah
2.      Metode Pengelolaan Sampah
3.      Konsep Pengelolaan Sampah
4.      Manfaat Pengelolaan Sampah dan
5.      Bencana Sampah yang tidak dikelola dengan baik
6.      Penaganan sampah organik dan non organik
7.      Penanganan sampah dengan aktif masyarakat


BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengertian
Pengertian Pengelolaan Sampah
Ø      Pengelolaan sampah adalah Pengumpulan, Pengangkutan, Pemrosesan, Pendaul-ulangan atau Pembuangan dari Material Sampah. Pengolahan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan metode dari keahlian khusus untuk masing-masing jenis zat.
Ø      Tujuan
Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan dua tujuan :
-          Mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis
-          Mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup.
  1. Metode Pengelolaan Sampah
    1. Metode Pembuangan
Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk penguburan untuk membuang sampah. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yang tidak terpakai. Lubang bekas pertambangan, atau lubang-lubang dalam. Sebuah lahan penimbunan darat yang dirancang dan dikelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang hiegenis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yang dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan, diantaranya angin berbau sampah, menarik berkumpulnya hama, dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida.
Karakteristik desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah Metode Pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat / pelapis plastik.banyak penimpunan sampah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang dipasang untuk mengampil gas yang terjadi.

    1. Metode Daul-ulang
Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali disebut sebagai Daul-ulang. Ada beberapa cara daur ulang yaitu pengampilan bahan sampah untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listrik. Metode baru dari Daur-Ulang yaitu :
1.      Pengolahan kembali secara fisik
Metode ini adalah aktivasi paling populer dari daur ulang, yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang telah dibuang contohnya kaleng minum alumunium. Kalag baja makanan / minuman, botol bekas, kertas karton, koran, majalah dan kardus. Pengumpulan biasanya dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah / kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur.

2.      Pengolahan kembali biologis
Material sampah (organik), seperti zat makanan, sisa makanan / kertas, bisa diolah dengan menggunakan proses biologis untuk kompos atau dikenal dengan istilah pengkomposan. Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan sebagai pupuk dan gas yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik.
Contoh dari pengolahan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin Program (program tong hijau) di toronto, kanada dimana sampah organik rumah tangga seperti sampah dapur dn potongan tanaman dikumpulkan di kantong khusus untuk di komposkan.
3.      Pemulihan energi
Kandungan energi yang terkandung dalam sampah bisa diambil langsung dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung dengan cara mengolahnya menjadi bahan bakar tipe lain. Daur-ulang melalui cara “perlakuan panas” bervariasi mulai dari menggunakannya sebagai bahan bakar memasak atau memanaskan sampai menggunakannya untuk memanaskan borlaer untuk menghasilkan uap dan listrik dari turbin-generator. Pirolisa dan Gusifikasi adalah dua bentuk perlakuan panas yang berhubungan, dimana sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin oksigen. Proses ini biasanya dilakukan di wadah tertutup pada tekanan tinggi. Pirolisa dari sampah padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat, gas dan cair. Produk cair dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi produk lain. Padatan sisa selanjutnya bisa dimurnikan menjadi produk seperti karbon aktif. Gasifikasi busure plasma yang canggih digunakan untuk mengonversi material organik langsung menjadi gas sintetis (campuran antara karbon monoksida dan hidrogen). Gas kemudian dibakar untuk menghasilkan listrik dan uap.

    1. Metode Penghindaran dan Pengurangan
Sebuah metode yang penting pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah bentuk, atau dikenal juga dengan “Penguangan sampah” metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai, memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali, mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai, mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama.

  1. Konsep Pengelolaan Sampah
Terdapat beberapa konsep tentang pengelolaansampah yang berbeda penggunaanya antara negara-negara atau daerah yaitu :
-          Hirarki sampah . hirarki limbah merujuk pada “3M” mengurangi sampah, menggunakan kembali sampah dan daur ulang yang mengklasifikasikan strategi pengelolaan sampah sesuai dengan keinginan dari segi minimalisasi sampah.
Tujuan limbah hirarki adalah untuk mengambil keuntungan meksimum dari produk-produk praktis dan menghasilkan jumlah minimum limbah.
-          Perpanjangan tanggung jawab penghasil sampah/extended producer responsibility (EPR). (EPR) adalah suatu strategi yang dirancang untuk mempromosikan integrasi semua biaya yang berkaitan dengan produk-produk mereka si seluruh siklus hidup (termasuk akhir-of-pembuangan biaya hidup) ke dalam pasar harga produk. Tanggung jawab produsen di perpanjang dimaksudkan untuk menentukan akuntabilitas atas seluruh lifecycle produk dan kemasan di perkenalkan ke pasar.
-          Prinsip pengotor berguna membayar. Prinsip pengotor membayar adalah prinsip di mana pajak pencemar membayar dampak akibatnya ke lingkungan.

  1. Manfaat Pengolahan Sampah
Manfaat dari pengolahan sampah yaitu :
1.      Penghematan sumber daya alam
2.      Penghematan energi
3.      Penghematan lahan TPA
4.      Lingkungan asri (bersih, sehat, nyaman)
5.      Mengurangi Pencemaran
Bencana Sampah yang tidak di kelola dengan baik
Sampah yang tidak dikelola akan menyebabkan :
1.      Longsor tumpukan sampah
2.      Sumber penyakit
3.      Pencemaran lingkungan
4.      Menyebabkan banjir

  1. Penanganan Sampah Organik dan Non Organik
-          Penanganan Sampah Organik
Penanganan sampah organik ditujukan pada pembuatan kompos mandiri yang dilakukan di tiap rumah tangga dan tiap RT kampung. Prosesnya sangat mudah, murah dan bermanfaat dapat berasal dari sampah dapur (rumah tangga) ataupun sampah pekarangan (RT)
-          Penanganan sampah Non-Organik
Di tiap rumah tangga harus memisahkan sampah plastik, logam dan kaca, serta kertas kemudian membuangnya ke tong-tong sampah sesuai jenis sampah yang telah di sediakan. Sampah-sampah tersebut akan di bawa ke tempat pengumpulan sampah untuk dipilih mana yang masih dapat dijual mana yang tidak dijual. Hampir semua sampah non organik dapat dijual ke pengepul
BAB III
PENUTUP

1.1.  Kesimpulan
Selain sebagai salah satu tugas mata diklat K3LH, makalah ini juga dimaksudkan oleh penulis untuk menjadi sebuah dokumen pengetahuan untuk kita semua.
Setelah kami mengamati dan mencatat hal-hal yang penting dari Tanggung Jawab Pengelolaan Sampah penulis menyimpulkan bahwa :
Ø      Pengelolaan sampah adalah Pengumpulan, Pengangkutan, Pemrosesan, Pendaul-ulangan atau Pembuangan dari Material Sampah.
Ø      Pembuangan sampah pada penimbunan darat dilakukan di tanah yang tidak terpakai, Lubang bekas pertambangan, atau lubang-lubang dalam
Ø      Penimbunan darat yang dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan
Ø      Ada beberapa Metode dalam Pengelolaan Sampah, yaitu Metode Pembuangan, Metode Daul-ulang dan Metode Penghindaran dan Pengurangan
Ø      Pengelolaan sampah sangat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan
Ø       

1.2.  Saran
Dari penulisan makalah ini penulis mengetahui jika makalah yang kami buat belum sempurna. Karena sumber yang didapat oleh penulis tidak terlalu lengkap dan banyak. Oleh karena itu, saran dan kritik dari para pembaca sangat kami butuhkan untuk meningkatkan kualitas dan kesempurnaan makalah ini.
http://kumpulan-makalah-dan-artikel.blogspot.co.id/2012/09/Makalah-sampah-Pengelolaan-Pengolahan-Penanganan-Penanggulangan-Sampah.html

makalah tentang isospora belli




Kata Pengantar
Bismillahirrahmanirrahim.
              Puji syukur atas kehadirat Allah swt. Yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga Makalah Parasitologi dengan judul “Isospora Belli”  ini dapat selesai dengan tepat waktu. Terwujudnya makalah ini, tidak terlepas dari bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu saya selaku penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Ibu Sulasmi, SKM.,M.Kes selaku dosen pengampu pada mata kuliah Parasitologi yang telah memberikan ilmu  dan sumbangsinya dalam menyusun makalah ini.
2.      Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikan motivasi dan dukungan baik moral maupun spiritual.
3.      Teman-teman yang tercinta yang telah sabar untuk meluangkan waktunya untuk berdiskusi dalam menyusun makalah ini.
4.      Dan semua pihak yang telah membantu dalam  menyusun makalah ini.
Dalam makalah ini terdapat beberapa pembahasan materi mengenai “Isospora Belli”. Namun dalam penyusunannya masih terdapat banyak kekurangan oleh karena itu kritik dan saran yang membangun diharapkan penulis dari semua pihak, agar kedepannya lebih baik lagi dalam menyusun makalah.  
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, baik itu  penulis terlebih kepada pembacanya.
Wasallam
Makassar,    April  2014 

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar........................................................................................................... i
DAFTAR ISI  ........................................................................................................... ii
BAB I   PENDAHULUAN...................................................................................... 1
A.  Latar Belakang ....................................................................................... 1
B.  Rumusan Masalah  ................................................................................. 1
C.  Tujuan .................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................... 3
A.Sejarah  ................................................................................................... 3
B. Penyebaran   ........................................................................................... 3
C. Tingkatan Taksonomi.............................................................................. 4
D.Morfologi................................................................................................ 4
E. Habitat.................................................................................................... 5
F.  Siklus Hidup........................................................................................... 5
G.Penyebaran Penyakit............................................................................... 7
H.Pencegahan ............................................................................................ 7
I.    Upaya yang dilakukan Pemerintah dalam mencegah Penyakit ini.......... 8
BAB III PENUTUP.................................................................................................. 9
A.  Kesimpulan............................................................................................. 9
B.  Saran ...................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 10



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
          Parasit adalah Organisme yang hidup pada permukaan tubuh atau di dalam organisme lain dan untuk kelangsungan hidupnya mengambil sebagian atau seluruh makanan serta mendapat perlindungan dari organisme lain tersebut. Atau parasit adalah organisme yang hidup sementara/menetap dan pada permukaan/di dalam. Dengan maksud  mengambil sebagian/seluruh kebutuhan makanan dan mendapat perlindungan. Ilmu yang khusus menangani mengenai parasit adalah Parasitologi. Hubungan timbal balik antara parasit dengan hospes yang berguna untuk kelangsungan hidup parasit tersebut disebut parasitisme.
Dalam makalah ini parasit yang yang menjadi pembicaraan adalah Isospora Belli, dimana parasit ini termasuk kelas sporozoa. Parasit yang termasuk dalam kelas sporozoa ini berkembang biak bergantian secara seksual  dan aseksual. Perkembangbiakan ini dapat terjadi dalam satu hospes yang ditemukan pada coccidia, sedang pada Haeosporidia di perlukan dua macam hospes yang berlainan jenis. Perkembangbiakan secara aseksual disebut Schizogoni dan berkembangbiakan secara seksual disebut Sporogoni.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu Isospora Belli dan bagaimana sejarah dari parasit Isospora belli ?
2.      Bagaimana penyebaran dari parasit Isospora Belli ?
3.      Bagaimana tingkatan Taksonomi dari parasit Isospora Belli ?
4.      Bagaimana morfologi dari parasit Isospora Belli ?
5.      Di mana habitat dari parasit Isospora Belli ?
6.      Bagaimana siklus hidup dari parasit Isospora Belli ?
7.      Bagaimana penyebaran penyakit yang disebabkan oleh parasit Isospora Belli ?
8.      Bagaimana upaya pencegahan agar terhindar dari penyakit penyebab parasit Isospora Belli ?

C.    Tujuan
Tujuannya adalah untuk mengetahui tentang parasit Isospora belli, yakni mengenai sejarah, penyebaran, taksonomi, morfologi, habitat, siklus hidup, penyebaran penyakit, dan pencegahannya.













BAB II
PEMBAHASAN
A.  Sejarah 
Kjelberg pertama kali melihat Isospora Belli pada tahun 1860 dalam vili dari usus kecil manusia, dan Eimer mengkonfirmasi hal ini pada tahun 1870. Pada tahun 1890 Raillet dan Lucet menemukan ookista dalam tinja, dan Wenyon menggambarkan ookista dan spora pada tahun 1915. Ada kebingungan antara dua spesies Isospora pada manusia, Isospora Belli dan Isospora Hominis, sampai saat Wenyon (1923-1926) mampu membedakan dua spesies mikroskopis: ookista yang lebih kecil diklasifikasikan sebagai Isospora Hominis, dan ookista berukuran lebih besar ditetapkan sebagai Isospora Belli. Ada perbedaan lain: biasanya, ketika gudang dalam tinja ookista dari Isospora Hominis yang matang dan mengandung sporocysts, sedangkan pada tinja segar Isospora ookista Belli belum matang. Deskripsi Wenyon tentang Isospora Hominis dan Isospora Belli sebagai spesies terpisah menginfeksi manusia berlangsung hingga tahun 1972, tetapi ketika siklus hidup Isospora Hominis ditemukan mirip dengan Sarcocystis spp, parasit ini dipindahkan ke genus ini (Isospora).

B.  Penyebaran
Isospora belli memiliki distribusi cosmopolitan atau termasuk parasit yang kosmopolit yang terjadi di seluruh dunia, tapi lebih umum dan sering ditemukan terjadi di daerah tropis dan subtropis. Distribusi geografik: penyebarannya luas, walaupun jarang ditemukan. Daerah endemi ditemukan di Afrika Selatan, Amerika Selatan, RRC, India, Jepang, Filipina, Indonesia & pulau2 di Pasifik  .


C.  Tingkatan Taksonomi
Ø  Kerajaan (Kingdom)  : Protista
Ø  Subkingdom               : Biciliata
Ø  Infrakingdom             : Alveolata
Ø  Filum                          : Apicomplexa
Ø  Kelas                          : Conoidasida
Ø  Subkelas                     : Coccidiasina
Ø  Ordo                           : Eucoccidiorida
Ø  Subordo                     : Eimeriorina
Ø  Famili                         : Eimeriidae
Ø  Genus                         : Isospora
Ø  Spesies                       : Belli

D.    Morfologi

1.    Berbentuk oval
2.    Ookista Isospora. Belli berukuran 25-33 mikron  
3.    Dinding lapis dua, rata & tidak berwarna, sitoplasma bergranula & mempunyai satu inti.
4.    Ookista menjadi matang dalam wkt 1-5 hr.  Sporokista menghasilkan 4 sporozoit yang bentuknya memanjang & mempunyai satu inti
5.    Infeksi terjadi bila tertelan ookista / sporokista matang

E.  Habitat
Hospes dari parasit ini adalah manusia dan binatang lainnya. Di dalam tubuh manusia habitat dari parasit ini adalah di Vili Usus Halus manusia.

F.     Siklus Hidup

1.    Ookista yang belum matang keluar bersama tinja orang yang terinfeksi, yang mengandung sporoblas
2.    Kemudian dalam pematangan lebih lanjut setelah ekskresi, sporoblast membagi dalam dua ( ookista sekarang berisi dua sporoblasts ).
3.    Sporoblasts mensekresikan dinding kista , sehingga menjadi sporocysts ; dan sporocysts membagi dua kali untuk menghasilkan empat sporozoit. Yang mana fase ini, ookista atau sporokista sudah matang.
4.    Infeksi terjadi jika Ookista atau sporokista yang sudah matang tertelan.
5.    Kemudian sporokista masuk ke dalam usus, khususnya di bagian Vili Usus manusia dan setelah itu sporokista melepaskan spozoit.


G. Penyebaran Penyakit
Nama penyakit yang disebabkan oleh parasit ini adalah Isosporiasis. Sama dengan penyebaran parasit ini, penyebaran penyakitnya juga dapat ditemui di seluruh dunia (kosmopolit), terutama di daerah tropis dan subtropis. Modus penularan dari penyakit Isosporiasis adalah fecal-oral, yaitu melalui makanan atau air yang terkontaminasi/tercemar dengan kotoran manusia.
Penyebaran penyakit ini mudah ditemukan di daerah endemi karena sanitasi lingkungan dari daerah yang endemi belum bisa dikatakan baik/memenuhi standar.


H.  Pencegahan
·      Pendidikan kesehatan, untuk mencegah penyebaran penyakit parasit Isospora belli, terutama daerah yang endemi dengan penyakit ini. Yakni dengan memberi penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis tentang cara-cara penularan dan cara pemberantasan penyakit ini.
·      Persediaan air minum, air untuk mandi dan mencuci pakaian hendaknya diambil dari sumber yang bebas ookista atau sporokista
·      Mengurangi kebiasaan masyarakat membuang tinja di sembarang tempat.
·      Pengawasan higiene dan sanitasi yakni dengan menjaga kebersihan perorangan dan kebersihan lingkungan untuk menghindari kontak dengan tinja penderita yang mengandung ookista.

I.     Upaya yang dilakukan Pemerintah dalam mencegah penyakit ini, yaitu:
·      Pemerintah berupaya menyadiakan jamban sehat bagi masyarakat awam yang belum mengerti mengenai jamban sehat, yang dikenal dengan program Jambanisasi. 
·      Pemerintah menyediakan air bersih yakni dengan menyediakan air PDAM.
·      Memberikan stimulan kepada masyarakat berupa sumbangan uang, agar masyarakat dapat membuat jamban sehat sendiri.
·      Menyalurkan tenaga sanitasi di masyarakat agar dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai jamban sehat, mengenai PHBS(Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), seperti mengupayakan agar jamban dengan tempat penampungan air memiliki jarak sehingga kontaminasi dengan parasit berkurang.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Isospora merupakan bagian dari tatanan coccidia parasit intraseluler yang melewati tahap-tahap perkembangan di dalam hewan inang serta dalam lingkungan eksternal. Parasit ini menargetkan usus kecil, di mana ia berkembang dalam jaringan mukosa. Berbagai tahap pembangunan pada akhirnya menghasilkan telur mikroskopis, atau ookista, yang diekskresikan dengan kotoran. Dalam kondisi yang tepat, ookista akan mengembangkan untuk membentuk ookista sporulated dalam 1 sampai 3 hari. Setelah dimakan, ookista melepaskan empat sporozoit terkandung dalam setiap sporocyst dalam lumen usus.

B.     Saran
Kebersihan lingkungan merupakan salah satu faktor dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat, serta dapat mengurangi terjadinya berbagi pencemaran. Sehingga diharapkan warga harus proaktip dan mendukung kebijakan pemerintah dalam mewujudkan Indonesia, sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan sehat. Sehingga mereka dapat bekerja dan berkarya  lebih maksimal menuju masyarakat yang makmur dan sejahtera.







DAFTAR PUSTAKA
·         Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.html# (diakses pada tanggal 9 April 2014)
·         http://kesehatan-tips.blogspot.com/2012_05_01_archive.html(diakses pada tanggal  10 April 2014)
·         http://herdianaakhyar.blogspot.com/2012/10/teknik-pemeriksaan-protozoa-usus.html  (diakses pada tanggal  10 April 2014)
·         http://id.wikipedia.org/wiki/Isosporiasis  (diakses pada tanggal 11 April 2014)
·         http://dna.kdna.ucla.edu/parasite_course-old/isospora_files/subchapters/historical.html  (dikses pada tanggal 11 April 2014) 
·         http://www.stanford.edu/class/humbio103/ParaSites2006/Isosporiasis/index.html  (diakses pada tanggal  11 April 2014)
·         http://dc245.4shared.com/doc/vGgf-ZB5/preview.html (diakses pada tanggal 11 April 2014)