Dosen : Syamsuddin S, SKM,M.Kes
Mata kuliah
: Bahasa inggris
“Cholera Infectious Disease”
Makalah Tentang Infeksi Cholera ( Kolera)

Arranged by
:
1) PO714221151063 : Karmila
2) PO7144221151 : Ade rezky Octavia salim
3) PO7144221151
: Nurul dwi ilmiah ningrum
4) PO7144221151 : Sri fitri susy syam
5) PO7144221151 : Diona sakiyah
6) PO7144221151 : Arini anggriani
Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia
Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan
Makassar
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Tahun 2016/2017
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.
Atas rahmat dan anugrahnya, maka kelompok kami dapat menyelesaikan makalah
dengan judul ”KOLERA” dengan baik. Makalah ini di buat bertujuan agar dapat
memahami dan mengembangkan materi yang disajikan, kami sadar makalah ini masih
jauh dari sempurna, baik dari segi materi maupun penyusunannya, maka kami para
penyusun secara terbuka menerima kritik dan saran yang bersifat membangun agar
makalah selanjutnya menjadi lebih baik.
Dengan terselesaikanya makalah ini, kami berharap semoga
bermanfaat bagi pembaca dan rekan-rekan sekalian. Tidak lupa pula kami ucapkan
terima kasih juga kepada semua pihak yang membantu menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para
pembacanya. Terimakasih.
Makassar 15 mei 2016
Penyusun
|
Daftar isi
Sampul
Halaman
Judul
Kata
pengantar i
Daftar isi ii
BAB I
pendahuluan
1) Latar belakang 1
2) Rumusan masalah 2
BAB II
pembahasan
1) Pengertian Kolera 3
2) Gejala penyakit kolera 4
3) Penyebab kolera 5
4) Penyebaran dan penularan kolera 6
5) Penanganan dan pengobatan kolera 7
6) Pencegahan kolera 8
7) fisiologi 9
8) Masa penularan 10
9) Mekanisme penyebaran V.cholera dalam
tubuh 11
BAB III
Penutup
1) Kesimpulan 13
2) Saran
13
Daftar
Pustaka 14
|
BAB I
Pendahuluan
A . Latar Belakang
Cholera
umumnya merupakan penyakit yang menyebar karna sanitasi yang buruk yang
menyebabkan kontaminasi sumber air. Cara ini jelas merupakan mekanisme utama
penyebaran penyakit cholera dalam lingkungan masyarakat miskin di Amerika
selatan.
Fasilitas
ssanitasi yang baik dieropa dan amerika serikat mengakibatkan hamper tidak
pernah terjadi wabah choera. Kasus-kasus sporadic muncul karna kerang yang
diambil dari perairan pantai yang tercemar oleh kotoran, dimakan mentah.
Cholera dapat juga ditularkan oleh kerang yang dipanen dari air yang tidak
tercemar karena V. cholera O1 merupakan bagian dari Mikrobiota penghuni alami
perairan pantai.
Vibrio
Cholera memproduksi racun Cholera, model untuk Enteretoksin, yang tindakan pada
epitel mukosa bertanggung jawab atas diare karakteristik penyakit kolera. Dalam
masnifestasi exterm, kolera adalah salah satu penyakit fatal cepat paling
dikenal seseorang yang sehat dapat menjadi hipotensi satu jam setelah timbulnya
gejala dan mungkin meninggal dalam waktu 2-3 jam jika pengobatan tidak
disediakan lebih umum, penyakit ini berlangsung dari bangku cair pertama yang
mengejutkan di 4-12 jam, dengan kematian berikut dalam 18 jam untuk beberapa
hari.
B . Tujuan
1. Untuk memenuhi tugas BAHASA INGGRIS
2 . Untuk dapat mengetahui gejala-gejala yang
terserang penyakit Kolera .
3 . Untuk mengetahui pencegahan penyakit kolera
4 . Untuk mengetahui pengobatan penyakit kolera
5 . Untuk mengetahui penyebaran penyakit kolera
C . Rumusan Masalah
Ø
Menjelaskan
pengertian penyakit kolera
Ø
Menjelaskan
gejala penyakit kolera
Ø
Menelaskan
bagaimana cara penularan penyakit kolera
Ø
Menjelaskan
masa penularan
Ø
Kekebalan
dan kerentanan penyakit kolera bagi tubuh
Ø
Menjelaskan
penyebab penyakit kolera
Ø
Penanganan
dan pengobatan penyakit kolera
Ø
Pencegahan
penyakit kolera dan diagnosis penyakit kolera
BAB II
Pembahasan
A .
Pengertian kolera
FilippoPacini (1854), seorang ahli anatomi dari Italia merupakan penemu pertamaVibrio cholerae, Pada
tahun 1854, Filippo Pacini mengungkapkan penemuannya tentang bakteri Vibrio cholerae yang menjadi penyebab utama
penyakit kolera, namun teori ini banyak diabaikan sampai ditemukan kembali oleh
Robert Koch.
Penyakit
kolera (cholera) adalah penyakit infeksi saluran usus bersifat akut yang
disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae, bakteri ini masuk kedalam tubuh
seseorang melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Bakteri tersebut
mengeluarkan enterotoksin (racunnya) pada saluran usus sehingga terjadilah
diare (diarrhoea) disertai muntah yang akut dan hebat, akibatnya seseorang
dalam waktu hanya beberapa hari kehilangan banyak cairan tubuh dan masuk pada
kondisi dehidrasi.
Kerajaan:
|
|
Filum:
|
|
Kelas:
|
Gamma Proteobacteria
|
Ordo:
|
Vibrionales
|
Famili:
|
|
Genus:
|
|
Spesies:
|
V. cholera
|
Apabila
dehidrasi tidak segera ditangani, maka akan berlanjut kearah hipovolemik dan
asidosis metabolik dalam waktu yang relatif singkat dan dapat menyebabkan
kematian bila penanganan tidak adekuat. Pemberian air minum biasa tidak akan
banyak membantu, Penderita (pasien) kolera membutuhkan infus cairan gula
(Dextrose) dan garam (Normal saline) atau bentuk cairan infus yang di mix
keduanya (Dextrose Saline).
Ada dua jenis umum Vibrio
cholerae:
1. Vibrio cholera serogrup
O1 non-bakteri
2. Vibrio cholera serogrup
O1.
Dalam
kebanyakan kasus, Vibrio cholerae serogrup O1 adalah jenis Vibrio cholerae yang
menyebabkan kolera. Vibrio cholera serogrup O139, sebuah Vibrio cholerae
serogrup O1 non-bakteri, adalah penyebab lain dari kolera. Ada sekitar 70
spesies lain dari Vibrio cholera serogrup O1 non-bakteri, namun spesies lainnya
jarang menyebabkan diare.
B.
Gejala Penyakit Kolera
Pada orang yang feacesnya ditemukan
bakteri kolera mungkin selama 1-2 minggu belum merasakan keluhan berarti.
Tetapi saat terjadinya serangan infeksi maka tiba-tiba terjadi diare dan muntah
dengan kondisi cukup serius sebagai serangan akut yang menyebabkan samarnya
jenis diare yang dialami.
Akan tetapi pada penderita penyakit kolera ada beberapa hal
tanda dan gejala yang ditampakkan, antara lain ialah :
1. Diare yang encer dan berlimpah tanpa
didahului oleh rasa mulas atau tenesmus.
2. Feaces atau kotoran (tinja) yang
semula berwarna dan berbau berubah menjadi cairan putih keruh (seperti air
cucian beras) tanpa bau busuk ataupun amis, tetapi seperti manis yang menusuk.
3. Feaces (cairan) yang menyerupai air
cucian beras ini bila diendapkan akan mengeluarkan gumpalan-gumpalan putih.
4. Diare terjadi berkali-kali dan dalam
jumlah yang cukup banyak.
5. Terjadinya muntah setelah didahului
dengan diare yang terjadi, penderita tidaklah merasakan mual sebelumnya.
6. Kejang otot perut bisa juga
dirasakan dengan disertai nyeri yang hebat.
7. Banyaknya cairan yang keluar akan
menyebabkan terjadinya dehidrasi dengan tanda-tandanya seperti: detak jantung
cepat, mulut kering, lemah fisik, mata cekung, hypotensi dan lain-lain yang
bila tidak segera mendapatkan penangan pengganti cairan tubuh yang hilang dapat
mengakibatkan kematian.
C
. Penyebab Kolera
Penyebab
infeksi kolera adalah bakteri bernama Vibrio cholerae. Ada dua siklus kehidupan yang berbeda pada
bakteri kolera, yaitu di dalam tubuh manusia dan lingkungan. Bakteri
kolera di tubuh manusia ditularkan melalui tinja yang mengandung bakteri. Bakteri
kolera bisa berkembang biak dengan subur jika persediaan air dan makanan telah
terkontaminasi dengan tinja tersebut. Selain itu bakteri kolera juga dapat
berkembang di lingkungan sekitar manusia tinggal. Perairan pinggir pantai yang
memiliki krustasea kecil bernama copepoda merupakan tempat alami munculnya
bakteri kolera. Plankton dan alga jenis tertentu merupakan sumber makanan bagi
krustasea, dan bakteri kolera akan ikut bersama inangnya, yaitu krustasea,
mengikuti sumber makanan yang tersebar di seluruh dunia.
Sumber-sumber infeksi kolera bisa
dari faktor makanan dan terpapar air yang mengandung bakteri. Faktor-faktor
yang paling umum adalah sebagai berikut.
- Makan kerang mentah atau yang tidak dimasak dengan matang, atau makanan laut lainnya yang berasal dari lokasi tertentu.
- Tumbuhnya bakteri kolera di daerah kolera mewabah bisa melalui nasi dan milet yang terkontaminasi setelah dimasak dan didiamkan di suhu ruangan selama beberapa jam.
- Bakteri kolera bisa bertahan di air untuk jangka waktu yang lama dan mencemari sumur-sumur yang digunakan oleh masyarakat umum.
- Infeksi kolera bisa bersumber dari sayuran dan buah-buahan mentah yang tidak dikupas. Lahan pertanian yang terkontaminasi oleh pemupukan yang tidak baik atau air untuk pengairan yang mengandung sampah.
- Lingkungan padat penduduk yang tidak memiliki sanitasi memadai.
Selain
beberapa sumber infeksi kolera seperti yang disebutkan di atas, ada juga
beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjangkit bakteri kolera. Risiko
seseorang terjangkit kolera akan meningkat jika dia tinggal satu rumah bersama
pengidap penyakit tersebut. Ada juga sebagian kelompok orang, seperti
anak-anak, orang lanjut usia, dan orang-orang yang memiliki kadar asam lambung
rendah akan lebih rentan terjangkit kolera.
Karakteritik
Umum dari Vibrio.Cholera
Vibrio.Cholera ada dua yang berpotensi sebagai
pathogen pada manuisia. Jenis utama yang menyebabkan kolera adalah V. Cholera
O1, sedangkan jenis-jenis lainnya dikenal sebagai O1.
Ø V.
cholera O1 adalah penyebab cholera Asiatik Atau Cholera Epidemik. Kasus Cholera
sangat jarang terjadi Dieropa dan Amerika Utara. Sebagian Besar kasus cholera
terjadi didaerah –daerah (sub) tropis. Cholera selalu disebabkan Oleh air yang
tercemar atau ikan (kerang) yang berasal dari perairan yang tercemar.
Ø V.
Cholera non O1 hanya menginfeksi manusia dan hewan primate lainnya. Organisme
Ini berkerabat dengan V. cholera O1, tetapi penyakit yang ditimbulkannya tidak
separah Cholera. Strain Phatogenik dan Non Phatogenik dari Organisme ini
merupakan Penghuni Normal dilingkungan air laut dan muara. Organism ini pada
masa lalu disebut sebagai non-Cholera Vibrio (NCL) dan noaglutinable Vibrio
(NAG)
D .
Penyebaran dan Penularan Penyakit Kolera
Kolera
dapat menyebar sebagai penyakit yang endemik, epidemik, atau pandemik. Meskipun
sudah banyak penelitian bersekala besar dilakukan, namun kondisi penyakit ini
tetap menjadi suatu tantangan bagi dunia kedokteran modern. Bakteri Vibrio
cholerae berkembang biak dan menyebar melalui feaces (kotoran) manusia, bila
kotoran yang mengandung bakteri ini mengkontaminasi air sungai dan sebagainya
maka orang lain yang terjadi kontak dengan air tersebut beresiko terkena
penyakit kolera itu juga.
Misalnya cuci tangan yang
tidak bersih lalu makan, mencuci sayuran atau makanan dengan air yang
mengandung bakteri kolera, makan ikan yang hidup di air terkontaminasi bakteri
kolera, Bahkan air tersebut (seperti disungai) dijadikan air minum oleh orang
lain yang bermukim disekitarnya.
1. Seseorang
bisa mendapatkan kolera dengan minum air atau makan makanan tercemar dengan
Vibrio cholerae. Sumber kontaminasi Vibrio cholerae, selama epidemi, biasanya
tinja orang yang terinfeksi. Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat di daerah
dengan pengobatan yang tidak memadai limbah dan air minum.
2. Vibrio cholerae juga dapat hidup
dalam lingkungan payau (air asin) sungai dan perairan pesisir. Ketika dimakan
mentah, kerang telah menjadi sumber bakteri Vibrio cholerae, dan beberapa orang
di Amerika Serikat terjangkit kolera setelah makan kerang mentah atau kurang
matang dari Teluk Meksiko.
3. Karena
Vibrio cholerae tidak mungkin menyebar langsung dari satu orang ke orang lain,
kontak biasa dengan penderita tidak risiko untuk menjadi sakit.
4. Setelah Vibrio cholerae yang tertelan, bakteri
perjalanan ke usus kecil di mana mereka mulai berkembang biak. Penyebab utama
diare berair, gejala kolera karakteristik, adalah ketika Vibrio cholerae mulai
memproduksi racun mereka.
5. Dalam rangka mengembangkan gejala kolera, seseorang
perlu menelan banyak Vibrio cholerae. Jumlah yang dibutuhkan menurun pada
mereka yang menggunakan antasida (atau siapa yang baru saja dimakan makan),
ketika asam di lambung dinetralkan.
6. Penyakit dapat menyebar lebih lanjut jika orang
yang terinfeksi mulai menggunakan sumber air kotor untuk membersihkan diri
mereka sendiri dan untuk buang dari limbah.
E . Penanganan dan Pengobatan Penyakit Kolera
Penderita yang mengalami penyakit
kolera harus segera mandapatkan penaganan segera,
yaitu
dengan memberikan pengganti cairan tubuh yang hilang sebagai langkah awal.
Pemberian cairan dengan cara Infus/Drip adalah yang paling tepat bagi penderita
yang banyak kehilangan cairan baik melalui diare atau muntah. Selanjutnya adalah
pengobatan terhadap infeksi yang terjadi, yaitu dengan pemberian
antibiotik/antimikrobial seperti Tetrasiklin, Doxycycline atau golongan
Vibramicyn.
Pengobatan
antibiotik ini dalam waktu 48 jam dapat menghentikan diare yang terjadi. Pada
kondisi tertentu, terutama diwilayah yang terserang wabah penyakit kolera
pemberian makanan/cairan dilakukan dengan jalan memasukkan selang dari hidung
ke lambung (sonde). Sebanyak 50% kasus kolera yang tergolang berat tidak dapat
diatasi (meninggal dunia), sedangkan sejumlah 1% penderita kolera yang mendapat
penanganan kurang adekuat meninggal dunia. (massachusetts medical society,
2007: Getting Serious about Cholera).
Pengobatan untuk kolera biasanya
melibatkan proses rehidrasi, yaitu dengan:
- Solusi rehidrasi melalui oral (oralit).
·
Solusi rehidrasi dengan intravena (infus) untuk
kasus kolera berat
Rehidrasi
yang direkomendasikan WHO
Kondisi
Pasien
|
Pengobatan
|
Pedoman;
usia dan berat badan
|
Non
dehidrasi
|
Oralit
|
Anak-anak < 2 tahun: 50 mL-100
mL, hingga 500 mL/hari
Anak-anak 2-9 tahun: 100 mL-200 mL, hingga 1.000 mL/hari Anak-anak > 9 tahun: sebanyak mungkin, hingga 2.000 mL/hari |
Dehidrasi
sedang
|
Oralit (dalam 4 jam pertama)
|
Bayi < 4 bulan (< 5 kg):
200-400 mL
Bayi 4 bulan-11 bulan (5 kg-7,9 kg): 400-600 mL Anak-anak 1-2 tahun (8 kg-10,9 kg): 600-800 mL Anak-anak 2-4 tahun (11 kg-15,9 kg): 800-1.200 mL Anak-anak 5-14 tahun (16 kg-29,9 kg): 1.200-2.200 mL Pasien > 14 tahun (30 kg atau lebih): 2.200-4.000 mL |
Dehidrasi
berat
|
IV drip Ringer Lactate, atau jika
tidak tersedia,
oralit seperti uraian diatas |
Usia < 12 bulan: 30 mL/kg dalam
satu jam*, kemudian 70 mL/kg selama 5 jam
Usia > 1 tahun: 30 mL/kg dalam 30 menit*, kemudian 70 mL/kg selama dua setengah jam |
* Ulangi sekali lagi jika nadi masih
sangat lemah atau tidak terdeteksi
- Pantau terus keadaan pasien selama satu sampai dua jam dan terus lakukan rehidrasi. Jika dengan rehidrasi kondisi tidak membaik, berikan infus. 200 ml/kg atau lebih mungkin akan dibutuhkan dalam 24 jam pertam.
- Setelah enam jam (bayi) atau tiga jam (pasien yang lebih tua), lakukan observasi penuh. Beralih ke oralit jika rehidrasi berhasil dan pasien dapat minum.
Cara pencegahan dan memutuskan
tali penularan penyakit kolera adalah dengan prinsip sanitasi lingkungan,
terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada tempatnya yang
memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang sudah dimasak
terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai
sabun/antiseptik, cuci sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan
mentah (lalapan), hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang.
Bila dalam anggota keluarga ada yang terkena kolera, sebaiknya diisolasi dan secepatnya mendapatkan pengobatan. Benda yang tercemar muntahan atau tinja penderita harus di sterilisasi, searangga lalat (vektor) penular lainnya segera diberantas. Pemberian vaksinasi kolera dapat melindungi orang yang kontak langsung dengan penderita.
Bila dalam anggota keluarga ada yang terkena kolera, sebaiknya diisolasi dan secepatnya mendapatkan pengobatan. Benda yang tercemar muntahan atau tinja penderita harus di sterilisasi, searangga lalat (vektor) penular lainnya segera diberantas. Pemberian vaksinasi kolera dapat melindungi orang yang kontak langsung dengan penderita.
F . Mencegah Kolera
Langkah terbaik untuk mencegah kolera adalah:
Langkah terbaik untuk mencegah kolera adalah:
1. Hanya menggunakan air yang
telah dimasak atau bahan kimia yang didesinfeksi untuk:
- Minum, atau menyiapkan minuman seperti teh atau kopi
- Menyikat gigi
- Mencuci wajah dan tangan
- Mencuci buah-buahan dan sayuran
- Mencuci peralatan makan
- Mencuci wadah, kaleng, dan botol-botol yang akan diisi makanan atau minuman.
2. Menghindari makan atau minum dari sumber yang
tidak diketahui. Setiap makan mentah bisa terkontaminasi, termasuk:
- Buah-buahan dan sayuran
- Susu dan produk olahan susu yang tidak dipasteurisasi
- Daging mentah
- Kerang-kerangan
- Ikan yang ditangkap dari daerah karang tropis (bukan laut terbuka).
Vaksin
kolera tersedia untuk usia minimal dua tahun, dan telah terbukti aman dan
efektif. Menurut WHO, enam bulan
setelah vaksin kolera diberikan, tingkat keberhasilan di semua kelompok usia
adalah 85%-90%, dan menurun menjadi 62% pada orang dewasa dalam waktu satu
tahun. Untuk waspada terhadap penyakit
kolera, hendaknya dilakukan tindakan preventif, karena penyakit ini tidak dapat
disepelekan akibatnya. Adapun tindakan pencegahan yang dimaksud melalui cara :
· Pertama, pemberian imunisasi vaksin
hidup (strain CVD 103-HgR/orachel/mutacel) dan vaksin mati (Dukoral, SBL).
·
Kedua, melakukan pengawasan
penderita kolera baik menggunakan laporan kepada instansi kesehatan, melakukan
isolasi pada pasien kolera berat. Ketiga, lakukan menejemen kontak terhadap
penderita penyakit kolera maupun makanan dan minuman yang diasup. Keempat, pemurnian
air minum. Kelima. Menyediakan pembuangan feaces yang tepat dan jauh dari
lingkungan padat penduduk.
· Pencegahan penyakit kolera pun dapat
dilakukan dengan pembiasaan hidup sehat, yakni : Pertama, menciptakan kebiasaan
cuci tangan sebelum makan ataupun sebelum masak. Kedua, pastikanlah makanan dan
minuman yang diasup steril dari bakteri.
· Ketiga, Minimalisirlah makanan
setengah matang apalagi jenis kerang-kerangan. Menu sayuran disertai
buah-buahan yang sehat lebih diutamakan. Keempat, Hindari konsumsi jajanan di
pinggir jalan yang sering dihinggapi lalat dan tidak terjamin kebersihannya.
Menjaga kebersihan makanan dan cara makan dapat membantu Anda tidak terjangkit
penyakit kolera. Karena kolera berasal dari kotoran dan memang kotor.
G . Masa
Penularan
Di perkirakan selama hasil pemeriksaan tinja masih positif, orang tersebut masih menular, berlangsung sampai beberapa hari sesudah sembuh. Terkadang status sebagai carrier berlangsung hingga beberapa bulan. Berbagai jenis antibiotika di ketahui efektif terhadap strain infektif (misalnya: tetrasiklin untuk strain O139 dan kebanyakan strain O1). Pemberian antibiotika memperpendek masa penularan walaupun sangat jarang sekali, di temukan infeksi kandung empedu kronis berlangsung hingga bertahun-tahun pada orang dewasa yang secara terus menerus mengeluarkan vibrio cholerae melalui tinja.
Di perkirakan selama hasil pemeriksaan tinja masih positif, orang tersebut masih menular, berlangsung sampai beberapa hari sesudah sembuh. Terkadang status sebagai carrier berlangsung hingga beberapa bulan. Berbagai jenis antibiotika di ketahui efektif terhadap strain infektif (misalnya: tetrasiklin untuk strain O139 dan kebanyakan strain O1). Pemberian antibiotika memperpendek masa penularan walaupun sangat jarang sekali, di temukan infeksi kandung empedu kronis berlangsung hingga bertahun-tahun pada orang dewasa yang secara terus menerus mengeluarkan vibrio cholerae melalui tinja.
H . Fisiologi
Vibrio cholerae bersifat aerob atau anaerob fakultatif. Suhu optimum untuk pertumbuhan pada suhu 18-37°C. Dapat tumbuh pada berbagai jenis media, termasuk media tertentu yang mengandung garam mineral dan asparagin sebagai sumber karbon dan nitrogen. V. cholerae ini tumbuh baik pada agar Thiosulfate-citrate-bile-sucrose (TCBS), yang menghasilkan koloni berwarna kuning dan pada media TTGA (Telurite-taurocholate-gelatin-agar).Gambar 2 menunjukkan Vibrio Cholerae pada media TCBS Selama 18 jam pada suhu 37°C menghasilkan koloni berwarna kuning
Vibrio cholerae bersifat aerob atau anaerob fakultatif. Suhu optimum untuk pertumbuhan pada suhu 18-37°C. Dapat tumbuh pada berbagai jenis media, termasuk media tertentu yang mengandung garam mineral dan asparagin sebagai sumber karbon dan nitrogen. V. cholerae ini tumbuh baik pada agar Thiosulfate-citrate-bile-sucrose (TCBS), yang menghasilkan koloni berwarna kuning dan pada media TTGA (Telurite-taurocholate-gelatin-agar).Gambar 2 menunjukkan Vibrio Cholerae pada media TCBS Selama 18 jam pada suhu 37°C menghasilkan koloni berwarna kuning
I
. Mekanisme perkembangan bakteri V. cholera dalam tubuhBeberapa bakteri yang bertahan hidup menghemat energi dan nutrisi yang tersimpan selama perjalanan melalui perut dengan menutup produksi protein banyak.Ketika bakteri yang masih hidup keluar dari lambung dan mencapai usus kecil, mereka perlu mendorong diri mereka melalui lendir tebal yang melapisi usus kecil untuk sampai ke dinding usus mana mereka dapat berkembang.“V. cholerae''bakteri memulai produksi protein silinder berongga flagellin untuk membuat flagela, yang keriting seperti cambuk ekor yang mereka berputar untuk mendorong diri mereka sendiri melalui lendir yang melapisi usus kecil.
Setelah bakteri kolera mencapai dinding usus, mereka tidak perlu baling-baling flagela untuk pindah lagi.Bakteri berhenti memproduksi protein flagellin, energi lagi sehingga melestarikan dan nutrisi dengan mengubah campuran protein yang mereka memproduksi dalam menanggapi lingkungan kimia berubah.Saat mencapai dinding usus,''V. cholerae''mulai memproduksi protein beracun yang memberi orang yang terinfeksi diare berair. Ini membawa generasi baru mengalikan''V. cholerae''bakteri keluar ke dalam air minum berikutnya host jika langkah-langkah sanitasi yang tepat tidak pada tempatnya.
Mekanisme genetik dari bakteri ini dimana''V. cholerae''bakteri mematikan produksi beberapa protein dan menghidupkan produksi protein lain sebagai respon mereka terhadap serangkaian lingkungan kimia yang mereka hadapi, melewati perut, melalui lapisan mukosa dari usus kecil, dan masuk ke usus dinding. Kepentingan tertentu telah menjadi mekanisme genetik dengan bakteri kolera yang menghidupkan produksi protein dari racun yang berinteraksi dengan mekanisme sel inang untuk memompa ion klorida ke dalam usus kecil, menciptakan tekanan ionik yang mencegah ion natrium memasuki sel. Klorida dan ion natrium menciptakan lingkungan air garam di usus kecil yang melalui osmosis dapat menarik hingga enam liter air per hari melalui sel-sel usus menciptakan sejumlah besar diare. Tuan rumah dapat menjadi cepat dehidrasi jika campuran yang tepat dari air garam encer dan gula tidak diambil untuk menggantikan air dan garam darah yang hilang selama diare.
Anak-anak yang terjangkit
bakteri kolera lebih rentan terkena hipoglisemia atau gula darah rendah yang
bisa menyebabkan kejang, hilang kesadaran, dan bahkan koma. Segera temui
dokter jika mengalami gejala diare yang parah dan dehidrasi untuk mendapatkan
penanganan lanjutan yang tepat.
BAB III
Penutup
A. Kesimpulan
1.
Penyakit kolera (cholera) adalah
penyakit infeksi saluran usus bersifat akut yang disebabkan oleh bakteri Vibrio
cholerae, bakteri ini masuk kedalam tubuh seseorang melalui makanan atau
minuman yang terkontaminasi.
2.
Bakteri Vibrio cholerae berkembang
biak dan menyebar melalui feaces (kotoran) manusia, bila kotoran yang
mengandung bakteri ini mengkon-taminasi air sungai dan sebagainya maka orang
lain yang terjadi kontak dengan air tersebut beresiko terkena penyakit kolera
itu juga.
3.
Cara pencegahan dan memutuskan tali
penularan penyakit kolera adalah dengan prinsip sanitasi lingkungan, terutama
kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada tempatnya yang memenuhi
standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang sudah dimasak terlebih
dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/anti-septik, cuci
sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan mentah (lalapan),
hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang.
B.
Saran
Adapun saran kepada seluruh
masyarakat adalah hendaknya selalu melakukan hidup bersih, melakukan sanitasi
lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada
tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang
sudah dimasak terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai
sabun/antiseptik,cuci sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan
mentah (lalapan), hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang.
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar