Minggu, 13 November 2016

Makalah tentang infeksi kolera



Dosen         :  Syamsuddin S, SKM,M.Kes
Mata kuliah : Bahasa inggris
                                                                                                                                                           
“Cholera Infectious Disease”
Makalah Tentang Infeksi Cholera ( Kolera)
Arranged by :
1)     PO714221151063 : Karmila
2)     PO7144221151   : Ade rezky Octavia salim
3)     PO7144221151   : Nurul dwi ilmiah ningrum
4)     PO7144221151  : Sri fitri susy syam
5)     PO7144221151 : Diona sakiyah
6)     PO7144221151  : Arini anggriani


Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Makassar
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Tahun 2016/2017

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan anugrahnya, maka kelompok kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul ”KOLERA” dengan baik. Makalah ini di buat bertujuan agar dapat memahami dan mengembangkan materi yang disajikan, kami sadar makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi materi maupun penyusunannya, maka kami para penyusun secara terbuka menerima kritik dan saran yang bersifat membangun agar makalah selanjutnya menjadi lebih baik.
Dengan terselesaikanya makalah ini, kami berharap semoga bermanfaat bagi pembaca dan rekan-rekan sekalian. Tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih juga kepada semua pihak yang membantu menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para pembacanya. Terimakasih.





 Makassar 15 mei 2016

Penyusun









i
 
 
Daftar isi
Sampul
Halaman Judul
Kata pengantar                                                                                                                   i
Daftar isi                                                                                                                               ii
BAB I pendahuluan
1)    Latar belakang                                                                                                  1
2)    Rumusan masalah                                                                                            2
BAB II pembahasan
1)    Pengertian Kolera                                                                                                  3
2)    Gejala penyakit kolera                                                                                          4
3)    Penyebab kolera                                                                                                    5
4)    Penyebaran dan penularan kolera                                                                   6
5)    Penanganan dan pengobatan kolera                                                               7
6)    Pencegahan kolera                                                                                                            8
7)     fisiologi                                                                                                                      9
8)     Masa penularan                                                                                                    10
9)    Mekanisme penyebaran V.cholera dalam tubuh                                          11                              
BAB III Penutup
1)    Kesimpulan                                                                                                              13
2)    Saran                                                                                                                         13
Daftar Pustaka                                                                                                                    14




ii
 
 
BAB I
Pendahuluan
A . Latar Belakang
     Cholera umumnya merupakan penyakit yang menyebar karna sanitasi yang buruk yang menyebabkan kontaminasi sumber air. Cara ini jelas merupakan mekanisme utama penyebaran penyakit cholera dalam lingkungan masyarakat miskin di Amerika selatan.
     Fasilitas ssanitasi yang baik dieropa dan amerika serikat mengakibatkan hamper tidak pernah terjadi wabah choera. Kasus-kasus sporadic muncul karna kerang yang diambil dari perairan pantai yang tercemar oleh kotoran, dimakan mentah. Cholera dapat juga ditularkan oleh kerang yang dipanen dari air yang tidak tercemar karena V. cholera O1 merupakan bagian dari Mikrobiota penghuni alami perairan pantai.
     Vibrio Cholera memproduksi racun Cholera, model untuk Enteretoksin, yang tindakan pada epitel mukosa bertanggung jawab atas diare karakteristik penyakit kolera. Dalam masnifestasi exterm, kolera adalah salah satu penyakit fatal cepat paling dikenal seseorang yang sehat dapat menjadi hipotensi satu jam setelah timbulnya gejala dan mungkin meninggal dalam waktu 2-3 jam jika pengobatan tidak disediakan lebih umum, penyakit ini berlangsung dari bangku cair pertama yang mengejutkan di 4-12 jam, dengan kematian berikut dalam 18 jam untuk beberapa hari.
B . Tujuan
1.      Untuk memenuhi tugas  BAHASA INGGRIS
2 . Untuk dapat mengetahui gejala-gejala yang terserang penyakit Kolera .
3 . Untuk mengetahui pencegahan penyakit kolera
4 . Untuk mengetahui pengobatan penyakit kolera
5 . Untuk mengetahui penyebaran penyakit kolera
C . Rumusan Masalah
Ø  *      Menjelaskan pengertian penyakit kolera
Ø  *      Menjelaskan gejala penyakit kolera
Ø  *      Menelaskan bagaimana cara penularan penyakit kolera
Ø  *      Menjelaskan masa penularan
Ø  *      Kekebalan dan kerentanan penyakit kolera bagi tubuh
Ø  *      Menjelaskan penyebab penyakit kolera
Ø  *      Penanganan dan pengobatan penyakit kolera
Ø  *      Pencegahan penyakit kolera dan diagnosis penyakit kolera




















BAB II
Pembahasan
A . Pengertian kolera
                https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFl8SIaNdRVR6HGnLmiIqyvAa3Mw7pVPzOpEDdKAmizJ2vVgABKT-awCX60glvczCyeXe6Us1nWKhQo8JWi1j1mkTtTywuoB9cV4knoX4c2XGJzLgYA9LjZoRotNKth3S8UwffDkcDDw/s1600/FilippoPacini.JPGFilippoPacini (1854), seorang ahli anatomi dari Italia merupakan penemu pertamaVibrio cholerae, Pada tahun 1854, Filippo Pacini mengungkapkan penemuannya tentang bakteri Vibrio cholerae yang menjadi penyebab utama penyakit kolera, namun teori ini banyak diabaikan sampai ditemukan kembali oleh Robert Koch.
            Penyakit kolera (cholera) adalah penyakit infeksi saluran usus bersifat akut yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae, bakteri ini masuk kedalam tubuh seseorang melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Bakteri tersebut mengeluarkan enterotoksin (racunnya) pada saluran usus sehingga terjadilah diare (diarrhoea) disertai muntah yang akut dan hebat, akibatnya seseorang dalam waktu hanya beberapa hari kehilangan banyak cairan tubuh dan masuk pada kondisi dehidrasi.
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Gamma Proteobacteria
Ordo:
Vibrionales
Famili:
Genus:
Spesies:
V. cholera

  Apabila dehidrasi tidak segera ditangani, maka akan berlanjut kearah hipovolemik dan asidosis metabolik dalam waktu yang relatif singkat dan dapat menyebabkan kematian bila penanganan tidak adekuat. Pemberian air minum biasa tidak akan banyak membantu, Penderita (pasien) kolera membutuhkan infus cairan gula (Dextrose) dan garam (Normal saline) atau bentuk cairan infus yang di mix keduanya (Dextrose Saline).
Ada dua jenis umum Vibrio cholerae:
1. Vibrio cholera serogrup O1 non-bakteri
2. Vibrio cholera serogrup O1.
Dalam kebanyakan kasus, Vibrio cholerae serogrup O1 adalah jenis Vibrio cholerae yang menyebabkan kolera. Vibrio cholera serogrup O139, sebuah Vibrio cholerae serogrup O1 non-bakteri, adalah penyebab lain dari kolera. Ada sekitar 70 spesies lain dari Vibrio cholera serogrup O1 non-bakteri, namun spesies lainnya jarang menyebabkan diare.
B.       Gejala Penyakit Kolera
Pada orang yang feacesnya ditemukan bakteri kolera mungkin selama 1-2 minggu belum merasakan keluhan berarti. Tetapi saat terjadinya serangan infeksi maka tiba-tiba terjadi diare dan muntah dengan kondisi cukup serius sebagai serangan akut yang menyebabkan samarnya jenis diare yang dialami.
Akan tetapi pada penderita penyakit kolera ada beberapa hal tanda dan gejala yang ditampakkan, antara lain ialah :
1.         Diare yang encer dan berlimpah tanpa didahului oleh rasa mulas atau tenesmus.
2.         Feaces atau kotoran (tinja) yang semula berwarna dan berbau berubah menjadi cairan putih keruh (seperti air cucian beras) tanpa bau busuk ataupun amis, tetapi seperti manis yang menusuk.
3.         Feaces (cairan) yang menyerupai air cucian beras ini bila diendapkan akan mengeluarkan gumpalan-gumpalan putih.
4.         Diare terjadi berkali-kali dan dalam jumlah yang cukup banyak.
5.         Terjadinya muntah setelah didahului dengan diare yang terjadi, penderita tidaklah merasakan mual sebelumnya.
6.         Kejang otot perut bisa juga dirasakan dengan disertai nyeri yang hebat.
7.         Banyaknya cairan yang keluar akan menyebabkan terjadinya dehidrasi dengan tanda-tandanya seperti: detak jantung cepat, mulut kering, lemah fisik, mata cekung, hypotensi dan lain-lain yang bila tidak segera mendapatkan penangan pengganti cairan tubuh yang hilang dapat mengakibatkan kematian.
C . Penyebab Kolera
            Penyebab infeksi kolera adalah bakteri bernama Vibrio cholerae.  Ada dua siklus kehidupan yang berbeda pada bakteri kolera, yaitu di dalam tubuh manusia dan lingkungan. Bakteri kolera di tubuh manusia ditularkan melalui tinja yang mengandung bakteri. Bakteri kolera bisa berkembang biak dengan subur jika persediaan air dan makanan telah terkontaminasi dengan tinja tersebut. Selain itu bakteri kolera juga dapat berkembang di lingkungan sekitar manusia tinggal. Perairan pinggir pantai yang memiliki krustasea kecil bernama copepoda merupakan tempat alami munculnya bakteri kolera. Plankton dan alga jenis tertentu merupakan sumber makanan bagi krustasea, dan bakteri kolera akan ikut bersama inangnya, yaitu krustasea, mengikuti sumber makanan yang tersebar di seluruh dunia.
Sumber-sumber infeksi kolera bisa dari faktor makanan dan terpapar air yang mengandung bakteri. Faktor-faktor yang paling umum adalah sebagai berikut.
  • Makan kerang mentah atau yang tidak dimasak dengan matang, atau makanan laut lainnya yang berasal dari lokasi tertentu.
  • Tumbuhnya bakteri kolera di daerah kolera mewabah bisa melalui nasi dan milet yang terkontaminasi setelah dimasak dan didiamkan di suhu ruangan selama beberapa jam.
  • Bakteri kolera bisa bertahan di air untuk jangka waktu yang lama dan mencemari sumur-sumur yang digunakan oleh masyarakat umum.
  • Infeksi kolera bisa bersumber dari sayuran dan buah-buahan mentah yang tidak dikupas. Lahan pertanian yang terkontaminasi oleh pemupukan yang tidak baik atau air untuk pengairan yang mengandung sampah.
  • Lingkungan padat penduduk yang tidak memiliki sanitasi memadai.
            Selain beberapa sumber infeksi kolera seperti yang disebutkan di atas, ada juga beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjangkit bakteri kolera. Risiko seseorang terjangkit kolera akan meningkat jika dia tinggal satu rumah bersama pengidap penyakit tersebut. Ada juga sebagian kelompok orang, seperti anak-anak, orang lanjut usia, dan orang-orang yang memiliki kadar asam lambung rendah akan lebih rentan terjangkit kolera.  
Karakteritik Umum dari Vibrio.Cholera
Vibrio.Cholera ada dua yang berpotensi sebagai pathogen pada manuisia. Jenis utama yang menyebabkan kolera adalah V. Cholera O1, sedangkan jenis-jenis lainnya dikenal sebagai O1.
Ø  V. cholera O1 adalah penyebab cholera Asiatik Atau Cholera Epidemik. Kasus Cholera sangat jarang terjadi Dieropa dan Amerika Utara. Sebagian Besar kasus cholera terjadi didaerah –daerah (sub) tropis. Cholera selalu disebabkan Oleh air yang tercemar atau ikan (kerang) yang berasal dari perairan yang tercemar.
Ø  V. Cholera non O1 hanya menginfeksi manusia dan hewan primate lainnya. Organisme Ini berkerabat dengan V. cholera O1, tetapi penyakit yang ditimbulkannya tidak separah Cholera. Strain Phatogenik dan Non Phatogenik dari Organisme ini merupakan Penghuni Normal dilingkungan air laut dan muara. Organism ini pada masa lalu disebut sebagai non-Cholera Vibrio (NCL) dan noaglutinable Vibrio (NAG)

     D . Penyebaran dan Penularan Penyakit Kolera
            Kolera dapat menyebar sebagai penyakit yang endemik, epidemik, atau pandemik. Meskipun sudah banyak penelitian bersekala besar dilakukan, namun kondisi penyakit ini tetap menjadi suatu tantangan bagi dunia kedokteran modern. Bakteri Vibrio cholerae berkembang biak dan menyebar melalui feaces (kotoran) manusia, bila kotoran yang mengandung bakteri ini mengkontaminasi air sungai dan sebagainya maka orang lain yang terjadi kontak dengan air tersebut beresiko terkena penyakit kolera itu juga.
            Misalnya cuci tangan yang tidak bersih lalu makan, mencuci sayuran atau makanan dengan air yang mengandung bakteri kolera, makan ikan yang hidup di air terkontaminasi bakteri kolera, Bahkan air tersebut (seperti disungai) dijadikan air minum oleh orang lain yang bermukim disekitarnya.
1.     Seseorang bisa mendapatkan kolera dengan minum air atau makan makanan tercemar dengan Vibrio cholerae. Sumber kontaminasi Vibrio cholerae, selama epidemi, biasanya tinja orang yang terinfeksi. Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat di daerah dengan pengobatan yang tidak memadai limbah dan air minum.
2.    Vibrio cholerae juga dapat hidup dalam lingkungan payau (air asin) sungai dan perairan pesisir. Ketika dimakan mentah, kerang telah menjadi sumber bakteri Vibrio cholerae, dan beberapa orang di Amerika Serikat terjangkit kolera setelah makan kerang mentah atau kurang matang dari Teluk Meksiko.
            3. Karena Vibrio cholerae tidak mungkin menyebar langsung dari satu orang ke orang lain, kontak biasa dengan penderita tidak risiko untuk menjadi sakit.
4. Setelah Vibrio cholerae yang tertelan, bakteri perjalanan ke usus kecil di mana mereka mulai berkembang biak. Penyebab utama diare berair, gejala kolera karakteristik, adalah ketika Vibrio cholerae mulai memproduksi racun mereka.
5. Dalam rangka mengembangkan gejala kolera, seseorang perlu menelan banyak Vibrio cholerae. Jumlah yang dibutuhkan menurun pada mereka yang menggunakan antasida (atau siapa yang baru saja dimakan makan), ketika asam di lambung dinetralkan.
6. Penyakit dapat menyebar lebih lanjut jika orang yang terinfeksi mulai menggunakan sumber air kotor untuk membersihkan diri mereka sendiri dan untuk buang dari limbah.

E . Penanganan dan Pengobatan Penyakit Kolera
Penderita yang mengalami penyakit kolera harus segera mandapatkan penaganan segera,
yaitu dengan memberikan pengganti cairan tubuh yang hilang sebagai langkah awal. Pemberian cairan dengan cara Infus/Drip adalah yang paling tepat bagi penderita yang banyak kehilangan cairan baik melalui diare atau muntah. Selanjutnya adalah pengobatan terhadap infeksi yang terjadi, yaitu dengan pemberian antibiotik/antimikrobial seperti Tetrasiklin, Doxycycline atau golongan Vibramicyn.
            Pengobatan antibiotik ini dalam waktu 48 jam dapat menghentikan diare yang terjadi. Pada kondisi tertentu, terutama diwilayah yang terserang wabah penyakit kolera pemberian makanan/cairan dilakukan dengan jalan memasukkan selang dari hidung ke lambung (sonde). Sebanyak 50% kasus kolera yang tergolang berat tidak dapat diatasi (meninggal dunia), sedangkan sejumlah 1% penderita kolera yang mendapat penanganan kurang adekuat meninggal dunia. (massachusetts medical society, 2007: Getting Serious about Cholera).

Pengobatan untuk kolera biasanya melibatkan proses rehidrasi, yaitu dengan:
  • Solusi rehidrasi melalui oral (oralit).
·         Solusi rehidrasi dengan intravena (infus) untuk kasus kolera berat
Rehidrasi yang direkomendasikan WHO

Kondisi Pasien
Pengobatan
Pedoman; usia dan berat badan
Non dehidrasi
Oralit
Anak-anak < 2 tahun: 50 mL-100 mL, hingga 500 mL/hari
Anak-anak 2-9 tahun: 100 mL-200 mL, hingga 1.000 mL/hari
Anak-anak > 9 tahun: sebanyak mungkin, hingga 2.000 mL/hari
Dehidrasi sedang
Oralit (dalam 4 jam pertama)
Bayi < 4 bulan (< 5 kg): 200-400 mL
Bayi 4 bulan-11 bulan (5 kg-7,9 kg): 400-600 mL
Anak-anak 1-2 tahun (8 kg-10,9 kg): 600-800 mL
Anak-anak 2-4 tahun (11 kg-15,9 kg): 800-1.200 mL
Anak-anak 5-14 tahun (16 kg-29,9 kg): 1.200-2.200 mL
Pasien > 14 tahun (30 kg atau lebih): 2.200-4.000 mL
Dehidrasi berat
IV drip Ringer Lactate, atau jika tidak tersedia,
oralit seperti uraian diatas
Usia < 12 bulan: 30 mL/kg dalam satu jam*, kemudian 70 mL/kg selama 5 jam
Usia > 1 tahun: 30 mL/kg dalam 30 menit*, kemudian 70 mL/kg selama dua setengah jam
* Ulangi sekali lagi jika nadi masih sangat lemah atau tidak terdeteksi
  • Pantau terus keadaan pasien selama satu sampai dua jam dan terus lakukan rehidrasi. Jika dengan rehidrasi kondisi tidak membaik, berikan infus. 200 ml/kg atau lebih mungkin akan dibutuhkan dalam 24 jam pertam.
  • Setelah enam jam (bayi) atau tiga jam (pasien yang lebih tua), lakukan observasi penuh. Beralih ke oralit jika rehidrasi berhasil dan pasien dapat minum.
              Cara pencegahan dan memutuskan tali penularan penyakit kolera adalah dengan prinsip sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang sudah dimasak terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/antiseptik, cuci sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan mentah (lalapan), hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang.
           Bila dalam anggota keluarga ada yang terkena kolera, sebaiknya diisolasi dan secepatnya mendapatkan pengobatan. Benda yang tercemar muntahan atau tinja penderita harus di sterilisasi, searangga lalat (vektor) penular lainnya segera diberantas. Pemberian vaksinasi kolera dapat melindungi orang yang kontak langsung dengan penderita.
F . Mencegah Kolera
            Langkah terbaik untuk mencegah kolera adalah:
1. Hanya menggunakan air yang telah dimasak atau bahan kimia yang didesinfeksi untuk:
  • Minum, atau menyiapkan minuman seperti teh atau kopi
  • Menyikat gigi
  • Mencuci wajah dan tangan
  • Mencuci buah-buahan dan sayuran
  • Mencuci peralatan makan
  • Mencuci wadah, kaleng, dan botol-botol yang akan diisi makanan atau minuman.
2.  Menghindari makan atau minum dari sumber yang tidak diketahui. Setiap makan mentah bisa terkontaminasi, termasuk:
  • Buah-buahan dan sayuran
  • Susu dan produk olahan susu yang tidak dipasteurisasi
  • Daging mentah
  • Kerang-kerangan
  • Ikan yang ditangkap dari daerah karang tropis (bukan laut terbuka).
Vaksin kolera tersedia untuk usia minimal dua tahun, dan telah terbukti aman dan efektif.    Menurut WHO, enam bulan setelah vaksin kolera diberikan, tingkat keberhasilan di semua kelompok usia adalah 85%-90%, dan menurun menjadi 62% pada orang dewasa dalam waktu satu tahun. Untuk waspada terhadap penyakit kolera, hendaknya dilakukan tindakan preventif, karena penyakit ini tidak dapat disepelekan akibatnya. Adapun tindakan pencegahan yang dimaksud melalui cara :
·         Pertama, pemberian imunisasi vaksin hidup (strain CVD 103-HgR/orachel/mutacel) dan vaksin mati (Dukoral, SBL).
·         Kedua, melakukan pengawasan penderita kolera baik menggunakan laporan kepada instansi kesehatan, melakukan isolasi pada pasien kolera berat. Ketiga, lakukan menejemen kontak terhadap penderita penyakit kolera maupun makanan dan minuman yang diasup. Keempat, pemurnian air minum. Kelima. Menyediakan pembuangan feaces yang tepat dan jauh dari lingkungan padat penduduk.
·         Pencegahan penyakit kolera pun dapat dilakukan dengan pembiasaan hidup sehat, yakni : Pertama, menciptakan kebiasaan cuci tangan sebelum makan ataupun sebelum masak. Kedua, pastikanlah makanan dan minuman yang diasup steril dari bakteri.
·         Ketiga, Minimalisirlah makanan setengah matang apalagi jenis kerang-kerangan. Menu sayuran disertai buah-buahan yang sehat lebih diutamakan. Keempat, Hindari konsumsi jajanan di pinggir jalan yang sering dihinggapi lalat dan tidak terjamin kebersihannya. Menjaga kebersihan makanan dan cara makan dapat membantu Anda tidak terjangkit penyakit kolera. Karena kolera berasal dari kotoran dan memang kotor.
G . Masa  Penularan
                Di perkirakan selama hasil pemeriksaan tinja masih positif, orang tersebut masih menular, berlangsung sampai beberapa hari sesudah sembuh. Terkadang status sebagai carrier berlangsung hingga beberapa bulan. Berbagai jenis antibiotika di ketahui efektif terhadap strain infektif (misalnya: tetrasiklin untuk strain O139 dan kebanyakan strain O1). Pemberian antibiotika memperpendek masa penularan walaupun sangat jarang sekali, di temukan infeksi kandung empedu kronis berlangsung hingga bertahun-tahun pada orang dewasa yang secara terus menerus mengeluarkan vibrio cholerae melalui tinja.
H . Fisiologi
                Vibrio cholerae bersifat aerob atau anaerob fakultatif. Suhu optimum untuk pertumbuhan pada suhu 18-37°C. Dapat tumbuh pada berbagai jenis media, termasuk media tertentu yang mengandung garam mineral dan asparagin sebagai sumber karbon dan nitrogen. V. cholerae ini tumbuh baik pada agar Thiosulfate-citrate-bile-sucrose (TCBS), yang menghasilkan koloni berwarna kuning  dan pada media TTGA (Telurite-taurocholate-gelatin-agar).Gambar 2 menunjukkan Vibrio Cholerae pada media TCBS Selama 18 jam pada suhu 37°C menghasilkan koloni berwarna kuning


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhd-JhHjukaAI4tcRu2UbMt7xE90mFtH5KWbZ9PP2doI9WY1INZKOKcUDiSlAEAiLJYHlPmr5bYO03Cr7bEp-iMwQibKSEMQAEixFOTl_BEJgBmJgrGEVe1-IKVjqFpyShxv2MGMTf5kg/s1600/colerae.JPG I . Mekanisme perkembangan bakteri V. cholera dalam tubuh
                Beberapa bakteri yang bertahan hidup menghemat energi dan nutrisi yang tersimpan selama perjalanan melalui perut dengan menutup produksi protein banyak.Ketika bakteri yang masih hidup keluar dari lambung dan mencapai usus kecil, mereka perlu mendorong diri mereka melalui lendir tebal yang melapisi usus kecil untuk sampai ke dinding usus mana mereka dapat berkembang.“V. cholerae''bakteri memulai produksi protein silinder berongga flagellin untuk membuat flagela, yang keriting seperti cambuk ekor yang mereka berputar untuk mendorong diri mereka sendiri melalui lendir yang melapisi usus kecil.
                Setelah bakteri kolera mencapai dinding usus, mereka tidak perlu baling-baling flagela untuk pindah lagi.Bakteri berhenti memproduksi protein flagellin, energi lagi sehingga melestarikan dan nutrisi dengan mengubah campuran protein yang mereka memproduksi dalam menanggapi lingkungan kimia berubah.Saat mencapai dinding usus,''V. cholerae''mulai memproduksi protein beracun yang memberi orang yang terinfeksi diare berair. Ini membawa generasi baru mengalikan''V. cholerae''bakteri keluar ke dalam air minum berikutnya host jika langkah-langkah sanitasi yang tepat tidak pada tempatnya.
                Mekanisme genetik dari bakteri ini dimana''V. cholerae''bakteri mematikan produksi beberapa protein dan menghidupkan produksi protein lain sebagai respon mereka terhadap serangkaian lingkungan kimia yang mereka hadapi, melewati perut, melalui lapisan mukosa dari usus kecil, dan masuk ke usus dinding. Kepentingan tertentu telah menjadi mekanisme genetik dengan bakteri kolera yang menghidupkan produksi protein dari racun yang berinteraksi dengan mekanisme sel inang untuk memompa ion klorida ke dalam usus kecil, menciptakan tekanan ionik yang mencegah ion natrium memasuki sel. Klorida dan ion natrium menciptakan lingkungan air garam di usus kecil yang melalui osmosis dapat menarik hingga enam liter air per hari melalui sel-sel usus menciptakan sejumlah besar diare. Tuan rumah dapat menjadi cepat dehidrasi jika campuran yang tepat dari air garam encer dan gula tidak diambil untuk menggantikan air dan garam darah yang hilang selama diare.
Anak-anak yang terjangkit bakteri kolera lebih rentan terkena hipoglisemia atau gula darah rendah yang bisa menyebabkan kejang, hilang kesadaran, dan bahkan koma. Segera temui dokter jika mengalami gejala diare yang parah dan dehidrasi untuk mendapatkan penanganan lanjutan yang tepat.



                                















BAB III
Penutup
A.      Kesimpulan
1.             Penyakit kolera (cholera) adalah penyakit infeksi saluran usus bersifat akut yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae, bakteri ini masuk kedalam tubuh seseorang melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
2.             Bakteri Vibrio cholerae berkembang biak dan menyebar melalui feaces (kotoran) manusia, bila kotoran yang mengandung bakteri ini mengkon-taminasi air sungai dan sebagainya maka orang lain yang terjadi kontak dengan air tersebut beresiko terkena penyakit kolera itu juga.
3.              Cara pencegahan dan memutuskan tali penularan penyakit kolera adalah dengan prinsip sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang sudah dimasak terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/anti-septik, cuci sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan mentah (lalapan), hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang.
B.       Saran
Adapun saran kepada seluruh masyarakat adalah hendaknya selalu melakukan hidup bersih, melakukan sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang sudah dimasak terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/antiseptik,cuci sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan mentah (lalapan), hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang.

DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar