DOSEN : KHIKI PURNAWATI KASIM , S.ST , M.Kes
MATA KULIAH : PMM-A
LAPORAN
HASIL PRAKTIKUM PEMERIKSAAN USAP ALAT
MAKAN
( GELAS DAN
GARPU )

Oleh :
PO714221151063
: Karmila
KEMENTERIAN
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN
KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN 2017
DASAR
TEORI
Dalam
penyehatan makanan dan minuman, kebersihan alat makan merupakan bagian yang
sangat penting dan berpengaruh terhadap kualitas makanan dan minuman. Alat
makan yang tidak dicuci dengan bersih dapat menyebabkan organisme atau bibit
penyakit yang tertinggal akan berkembang biak dan mencemari makanan yang akan
diletakkan di atasnya.
Angka kuman dan adanya
bakteri coli pada permukaan alat makan yang telah dicuci dapat diketahui dengan
melakukan uji dengan cara usap alat makan pada permukaan alat makan.
Uji
sanitasi alat makan atau alat masak perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat
kebersihan alat tersebut. Sehingga melalui uji sanitasi alat tersebut, petugas
inspeksi dari dinas kesehatan dapat menetapkan apakan alat makan tersebut sudah
layak digunakan atau belum. (Anonim 2010)
Salah satu sumber penularan
penyakit dan penyebab terjadinya keracunan makanan adalah makanan dan minuman
yang tidak memenuhi syarat higiene. Keadaan higiene makanan dan minuman antara
lain dipengaruhi oleh higiene alat masak dan alat makan yang dipergunakan dalam
proses penyediaan makanan dan minuman. Alat masak dan alat makan ini perlu
dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan mikrobiologi usap alat makan
meliputi pemeriksaan angka kuman. (Tiksundari 2013)
Sanitasi
alat makan dimaksudkan untuk membunuh sel mikroba vegetatif yang tertinggal
pada permukaan alat. Agar proses sanitasi efisien maka permukaan yang akan
disanitasi sebaiknya dibersihkan dulu dengan sebaik-baiknya Pencucian dan
tindakan pembersihan pada peralatan makan sangat penting dalam rangkaian
pengolahan makanan. Menjaga kebersihan peralatan makan telah membantu mencegah
terjadinya pencemaran atau kontaminasi terhadap peralatan dilakukan dengan
pembersihan peralatan yang benar ).
HASIL
A. Metode praktikum
Metode
praktikum yaitu metode swab dilakukan dengan cara di
usap dengan menggunakan lidi kapas steril.
B. Prinsip Praktikum
1.
Tangan dan meja tempat praktikum harus dalam
keadaan steril.
2.
Alat dan bahan harus dalam keadaan steril.
3.
Tabung reaksi diplambir sebelum dan sesudah dimasukkan
sampel untuk menjaga agar tabung tetap steril.
4.
Pipet ukur harus diplambir sebelum dan sesudah digunakan.
5.
Diperlukan ketelitian dalam melakukan percobaan.
C. Waktu Praktikum
1. Praktikum Usap Alat Makan
A. Hari/Tanggal
: selasa , 25 april
2017
B. Jam Mulai-akhir
: Pukul. 10.07 WITA
2.
Pemeriksaan Angka Lempeng Total (ALT)
A. Hari/Tanggal
: Rabu, 26 April 2017
B. Jam Mulai-akhir
: Pukul. 8.30 WITA
3.
Pembacaan Hasil dan Perhitungan Jumlah
Angka Kuman
A. Hari/Tanggal
: Rabu , 26 April 2017
B. Jam Mulai-akhir
: Pukul. 10.00 WITA
D. Tempat
1. Praktikum Usap Alat Makan
Lokasi praktikum usap alat makan ini
berada di kantin dan asrama putri kampus kesehatan
lingkungan poltekkes makassar , Kelurahan
Banta-Bantaeng, Kecamatan Rappocini, Makassar.
2. Praktikum Pemeriksaan Angka Lempeng
Total (ALT) / angka kuman
Proses pemeriksaan Angka Lempeng Total
(ALT)/ angka kuman ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Kampus
Poltekkes Kemenkes Makassar Jurusan Kesehatan Lingkungan.
E. Prosedur Pelaksanaan
1. Tahap Persiapan Alat dan bahan
A. Alat
1) Pipet Steril 10 ml
2) Petridish
steril
4 buah masing – masing pemeriksaan
3) Lidi Kapas steril
4 buah masing – masing pemeriksaan
4) Luas Jendela
5) Erlenmeyer
6) Pengaduk
7) Lampu spritus
8) Korek api
9) Tabung reaksi
10) Rak tabung
11) Kompor gas
12) Spidol
13) Termos
14) Gunting
15) Autoclave
16) Inkubator
17) Oven
18) Bulp
B. Bahan
1) Air pepton
2) Larutan pengencer nacl 0,85%
3) Medium Nutrien Agar
4) Alkohol
5) Kapas
6) Kertas Label
2. Tahap Pelaksanaan
A. Praktikum Usap Alat Makan
1) Persiapkan sarung tangan yang steril atau bisa dengan membasahi tangan
dengan menggunakan alkohol agar tangan menjadi steril.
2) Alat makan yang akan diperiksa masing – masing diambil 4 buah tiap jenis
yang diambil secara acak dari tempat penyimpanan.
3) Persiapkan catatan formulir pemeriksaan dengan membagi alat makan dalam
kelompok – kelompok
4) Persiapkan lidi kapas steril, kemudian buka kapas penutup tabung reaksi
yang berisi air pepton.
5) Plumbir bagian ujung dari tabung reaksi tersebut, kemudian masukkan lidi
kapas steril ke dalamnya.
6) Lidi kapas steril dalam tabung reaksi ditekan ke dinding tabung untuk
membuang /memeras airnya, lalu angkat dan diusapkan pada setiap alat – alat
makan yang diusapkan sampai selesai.
7) Permukaan tempat alat makan yang diusap, yaitu:
A) Cangkir dan gelas : permukaan
luar dan dalam bibir setinggi 6 mm
B) Garpu
: permukaan bagian luar dan dalam alat penusuk
8) Cara melakukan usapan :
A) Pada cangkir dan gelas dengan usapan mengelilingi bidang permukaan.
B) Pada sendok dan garpu dengan usapan seluruh permukaan luar dan dalam.
C) Pada piring dengan 2 usapan pada permukaan tempat makanan dengan menyilang
siku – siku antara usapan yang satu dengan garis usapan kedua dan menggunakan
luas jendela untuk mewakili dari luas seluruh permukaan piring.
9) Setiap bidang permukaan yang diusap dilakukan 3 kali berturut – turut dan
satu lidi kapas digunakan untuk satu kelompok alat makan yang diperiksa.
10) Setiap hasil mengusap 1 alat makan dari sau kelompok selalu dimasukkan ke
dalam botol cairan di putar – putar dan ditekan ke dinding, demikian dilakukan
berulang – ulang sampai semua kelompok diambil usapannya.
11) Pada usapan peralatan makan, setiap usapan alat harus mencapai luas sekitar
8 inchi persegi atau 50 cm 2 dan dilakukan 5 kali (tempat) sehingga
cukup mencapai luas 40 inchi atau 256 cm2
12) Setiap satu kelompok menggunakan 1 lidi kapas sebab yang diusapkan dengan
cara seperti no.11 di atas.
13) Setelah kelompok alat makan atau luas permukaan peralatan masak diusap,
lidi kapas dimasukkan ke dalam botol, lidinya dipatahkan atau digunting, dan
bibir tabung dipanaskan dengan api spritus, lalu ditutup kembali dengan kapas
penutupnya.
14) Tempelkan kertas label yang telah dipersiapkan, tulis nama jenis alat makan
yang telah diusap. Untuk nama pengambil, tempat pengambilan, dan tujuan
pengambilan sampel ditulis dibuku catatan yang telah disiapkan oleh pengambil.
15) Kirimkan segera ke laboratorium dengan suhu dingin untk diperiksa.
Bila tidak dapat dikirim segera, disimpan dalam tempat penyimpanan dingin.
C. Pemeriksaan Angka Lempeng Total
1) Siapkan larutan pengencer nacl 0,85%
sebanyak masing – masing 2 tabung dan 2 buah petridish yang diberi kode
101 dan 102 dan kontrol.
Catatan : Pengenceran yang digunakan
adalah pengenceran 101 dan 10 2 sehingga yang digunakan
yaitu:
2 tabung dan 2 petridish untuk gelas
2 tabung dan 2 petridish untuk garpu
2) Ambil 1 ml larutan pengencer nacl dengan pipet steril pada tabung kode
kontrol dan masukkan ke dalam petridish yang juga berkode kontrol.
3) Ambil 1 ml sampel dengan pipet steril pada tabung yang berkode 101
(untuk satu jenis alat makan) dengan dengan pipet lepas sebanyak ±25 kali dan
tidak boleh ditiup.
4) Pipet 2 ml dari tabung tadi (yang berkode 101) dan
masukkan ke dalam petridish yang berkode 101 (untuk satu jenis alat
makan) dan 1 ml sisanya ke tabung 102 lalu pipet lepas sebanyak ±25
kali
5) Pipet 1 ml dari tabung 102 masukkan ke petridish yang sudah
diberi kode 102.
6) Tuangi petridish yang berisi sampel dengan nutrien agar 55˚C – 56˚C
sebanyak ±15 ml
7) Digoyang-goyang agar rata dan biarkan beku
8) Balik petridish dan masukkan ke dalam inkubator untuk dieramkan dengan suhu
37˚C selama 1 x 24 jam
D. Pembacaan Hasil dan Perhitungan ALT /
Angka Kuman
1) Keluarkan petridish yang berisi sampel yang telah dieramkan selama 1 x 24
jam
2) Hitung jumlah kuman yang berbentuk bulatan pada sampel, kemudian masukkan
ke dalam rumus yang telah ditentukan
3) Adapun perhitungan jumlah kuman yang terbaca, yaitu:
Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
(A) Garpu
· Untuk pengenceran pertama (101)
= 114 koloni
· Untuk pengenceran kedua (102)
= 12 koloni
· Untuk kontrol = 9 koloni/cm2
Maka perhitungannya sebagai berikut :
ALT = (114–9) x 10 + (12–9) x 100
2
=
105 x 10 + 3 x 100
2
= 1.050 + 300 = 675 koloni/cm2
2
(B) Gelas
· Untuk pengenceran pertama (101)
= 53 koloni
· Untuk pengenceran kedua (102)
= 22 koloni
· Untuk kontrol = 9 koloni/cm2
Maka perhitungannya sebagai berikut :
ALT = (
53 – 9 ) x 10 + ( 22 – 9 ) x 100
2
=
44 x 10 + 13 x 100
2
= 440 + 1.300 = 870 koloni/cm2
2
ANALISA HASIL
Setelah
dilakukan praktikum, kami dapat menganalisa bahwa pertumbuhan
koloni bakteri pada pengencer yang tinggi diperoleh angka kuman yang tinggi,
jadi semakin rendah tingkat pengencerannya maka akan diperoleh nilai angka
kuman yang semakin rendah pula.Dan perhitungan pada kontrol yang seharusnya
tidak terdapat kuman, karena dalam kontrol hanya terdapat pengencer steril yang
tidak ditumbuhi atau ditaburi koloni bakteri, ternyata masih terdapat angka kuman yang banyak. Maka dapat dianalisa bahwa pengusapan alat makan seperti
sendok, piring dan mangkok tidak memenuhi syarat hal tersebut dikarenakan
jumlah kuman pada peralatan melebihi ambang batas yang dimana Berdasarkan
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011, bahwa alat makan
tidak boleh mengandung bakteri lebih dari 0 koloni/cm2. Oleh karena itu , dapat dilihat
bahwa sampel alat makan yang diteliti dapat dikatakan
tidak sehat dan tidak layak untuk
digunakan oleh masyarakat.
Ada beberapa
faktor yang menyebabkan tingginya hasil pemeriksaan alat makan pada warung
bakso tersebut yaitu :
A .
Bahan pencuci
Bahan
tidak bersih yang digunakan mencuci piring dapat mengkontaminasi peralatan
makan seperti spons dan detergen/sabun pencuci piring yang tidak sesuai.
B . Cara pencucian
Pada
saat pencucian seharusnya air yang digunakan yaitu air yang mengalir akan
tetapi kebanyakan masyarakat masih mencuci dengan wadah seperti ember/baskom
yang digunakan berkali-kali sehingga pencucian yang dilakukan kurang bersih
sehingga kuman dengan mudah dapat tumbuh dan berkembang.
C . Adanya sumber pencemaran kuman dan
arah angin
Sumber
pencemar dapat berasal dari seseorang apabila tidak memiliki personal hygiene
dengan baik sehingga dapat mengkontaminasi peralatan makan selain itu arah
angin juga dapat berpengaruh jikalau seseorang tersebut mengalami
infulensa/batuk saat melakukan pencucian.
D
.
Kondisi ruang penyimpanan, debu di
udara dan kelembaban ruangan
Tempat
penyimpanan peralatan makan yang sudah dicuci dapat terkontaminasi oleh debu
yang beterbangan disekitar dapur dan apabila kondisi sanitasi dapur kurang
bersih dan rapi makan vector akan datang dengan sendirinya.
E.
Adanya sinar matahari langsung yang
masuk ke dalam ruang penirisan/ penyimpanan ( alat yang disimpan diluar
misalnya meja )
Apabila
penyimpanan ditempatkan dekat dengan jendela atau sinar matahari langsung masuk
ke dalam ruangan maka peralatan makan tersebut maka bakteri/kuman dapat tumbuh
pada peralatan makan
F . Kondisi rak penyimpanan.
Kondisi
rak penyimpan yang tidak sesuai atau tidak di tata dengan rapi/dibiarkan
menumpuk tanpa pemisahan setiap jenis peralatan makan maka dapat terjadi
kontaminasi ataupun tumbuhnya kuman.
Adapun faktor lain yang memungkinkan dapat menyebabkan
keberadaan kuman (bakteri) pada alat makan warung bakso tersebut yaitu dapat
pula dipengaruhi dari ketidaktelitian praktikan pada saat melalukan percobaan,
termasuk pelaksanaan praktikum yang tidak sesuai prinsip kerja, dalam hal ini
adalah kesalahan cara pengambilan sampel serta banyak berbicara pada saat
melakukan praktikum.
Akibat kontaminasi bakteri
terhadap alat makan akan mempengaruhi kesehatan meskipun pada dasarnya tidak
berhubungan langsung dengan makanan. Akan tetapi, persyaratan higiene dan
sanitasi makanan salah satunya ditentukan oleh peralatan makanan.
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang
telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kebersihan alat makan yang
telah diperiksa menunjukkan angka kuman yang melebihi ambang batas sehingga
tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
SARAN
Sebaiknya
pemilik kantin dan penghuni asrama lebih memperhatikan sanitasi rumah dan kamar serta alat makan agar sesuai
dengan standar dan bagi pemilik kantin
sebaiknya memperhatikan kebersihan setiap bagian-bagian dari usahanya seperti
pada saat pengolahan makanan, kebersihan dapur dan personal hygiene agar
makanan dan peralatan selalu dalam keadaan bersih dan steril sehingga terhindar
dari bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi konsumen.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar